Pages

29 Mei 2012

Dua Sengatan Hati

0 comments
Sebuah SMS masuk ke handphone-ku, "mbak, minta doanya. Mamanya si XXX akan diangkat payudaranya akhir bulan ini."

Pesan singkat yang membuatku tersengat. Seketika aku membalas sms itu secara bertubi-tubi. Minta penjelasan. Apa maksudnya, kok bisa, mama si XXX ini akan diangkat payudaranya. Memangnya dia sakit apa. Iya, kemarin ketika di teras sekolahan Taman kanak-kanak itu, neneknya bilang dengan berbisik, kalau mamanya si XXX ini terkena kanker payudara. Sudah dibiopsi, dan sebagainya. Tapi aku nggak percaya. Sama sekali tidak percaya.

Mbak ini, mama si XXX ini, tampak sangat sehat. Badannya langsing. Padat. Aku yakin dia rajin ikut fitness dan menjaga pola makan. Aku pun sangat iri, karena anaknya sudah dua, badannya masih sebagus itu. Ah, tidak mungkin.

SMS berlanjut, sampai kami sepakat untuk berkunjung ke rumah teman kami, wali murid sebuah sekolah taman kanak-kanak, dimana anak-anak kami sekolah, si mamanya XXX ini.

Sampai di rumahnya, aku berbasa-basi dengan garing. Antara takut salah omong sekaligus ingin tahu. Berulang kali aku bongkar-bongkar koleksi tupperware yang jadi barang dagangannya dan menumpuk sebuah kardus di ruang tamunya.

Akhirnya, obrolan mengalir juga. Dan benar, diagnosa hasil biopsi, mammogram, dll menunjukkan bahwa mamanya si XXX ini terkena kanker payudara stadium 3 lanjut. Dan tidak ada tindakan lain lagi, kecuali pengangkatan payudara. Karena kankernya sudah hampir mengenai kelenjar getah bening. JIka dibiarkan, dan kankernya masuk ke kelenjar getah bening, maka akan terus menyebar kemana-mana dan semakin membahayakan.

"Pengangkatan Payudara?"
= bencana bagi kaum perempuan. benar tidak?

berulangkali aku menarik nafas dan berusaaahaa betul, bicara dengan nada yang ringan tentang kanker dan pengangkatan payudara ini. Dadaku semakin berat rasanya, ketika melihat anaknya yang masih belum genap umur setahun, merangkak riang kesana kemari itu, sudah harus diputus ASI-nya, karena bisa membahayakan kanker ibunya itu. Lalu juga, dilema yang harus dialami terus menerus karena suami temanku ini kerjanya jauh di luar kota. Selain itu juga kendala keuangan. Walau sudah bekerja jadi pegawai negeri, punya ASKES ternyata belum bisa memudahkan juga.

Pasalnya, di rumah sakit yang menerapkan ASKES itu, untuk sekedar periksa kanker payudara-nya saja, dia harus menunggu selama satu bulan. Belum waktu tunggu untuk operasinya dan lain-lain. Padahal dari hasil diagnosa, penyakitnya sudah harus segera diatasi. Tidak ada waktu tunggu yang lama lagi. Kalau bisa besok, ya besok operasi.

Aku menghela nafas yang begitu berat di dalam rumahnya yang besar, luas namun sepi. Kucoba mengalihkan pembicaraan. "mbak, aku kok nggak percaya sampeyan sakit kanker. wong kelihatannya sehat-sehat aja tuh. kok bisa kena? emang gaya makannya gimana?"

"lah itu, aku ini seneng beli makan diluar. Kurang serat pula."

"harusnya terasa loh mbak, dulu pasti ada rasa nggak enak di payudaranya. atau kesemutan sampai menjalar ke pundak. mbak, gak tau "sadari" [pemeriksaan payudara sendiri]?'

"mana aku tahu 'sadari', badanku kerasa apa-apa aja, aku nggak sadar kok"

dugh. Aduh. Sayang sekali.

Gaya hidup tidak sehat. Tidak pernah membuka informasi apapun tentang tubuhnya sendiri. Bisa jadi pukulan telak buat kaum wanita.

Aku bersyukur dianugerahi gemar membaca. Seingatku sejak SMA aku sudah tahu tentang adanya cara memeriksa payudara kita sendiri ini, 'sadari', dari majalah perempuan. Juga tahu efek tidak baik junkfood, fastfood dan lain sebagainya. Serta dianugerahi seorang ibu, yang mencak-mencak, jika anak perempuannya males masak buat suami dan anak-anaknya di rumah.

Kalau sudah terlanjur seperti ini, mau bagaimana lagi ya?

Yang aku tekankan pada temanku ini, ya sudah nerima, lalu fokus untuk pemulihan pasca operasi dan cara hidup yang tepat agat lebih sehat.

Sejak saat itu, aku rajin mencari info tentang Kanker Payudara dan cara pencegahannya. Lalu menge-share nya di facebook. Bagaimanapun juga, penyakit ini adalah momok.

Dan hari ini, Rabu, 30 Mei 2012, jam 8 pagi, temanku itu masuk ke ruang operasi. Satu payudaranya akan diangkat. Hatiku udah dag dig dug nggak karuan sejak subuh tadi. Serba bingung. Ikut bingung. Karena suami temanku ini pun, kabarnya belum sampai ke rumah sakit, masih di perjalanan menuju kota kami ini.

Namun, walau galau, aku putuskan tetap berangkat saja ke pondok, tempatku mengaji dengan ibu-ibu setiap pagi. Di sana karena sang guru, ada urusan, maka penafsiran hadits dipersingkat hanya satu jam. Tanpa sesi tanya jawab.

Sebelum pulang, temanku mengaji di telepon oleh suaminya yang ada di Papua, dia duduk disebelahku. Tak kusangka, tiba-tiba dia tergugu berurai air mata. Setelah menutup telponnya, dia berkata, "mbak, kata dokterku kemarin, aku diduga kena gejala kanker servix"

Dugh!
satu sengatan lagi untukku. Temanku sendiri, menghadapi salah satu penyakit berbahaya bagi kaum wanita.

Aku pulang, dengan tekad untuk memperbaiki semua hal. Ya makanan, ya olahraga, ya manajemen stress dan yang penting juga caraku beribadah, berdoa dan tirakat. Mengurus diri dan keluarga dengan lebih serius sebagai wujud syukur atas anugerah kesehatan untuk kami semua sampai hari ini dan selamanya nanti. Amin.

8 Mei 2012

Easy Start

0 comments
Pagi-pagi blogging?
wah keren dah, udah berminggu-minggu saya tidak melakukannya. Pertama karena tiap pagi, saya dah kabur ke pondok modern tempat saya dan ibu-ibu lainnya belajar mengaji. Hari ini, pondok tidak libur sebenarnya. Tapi saya ingin di rumah saja, bersama dua anak lelaki saya yang juga libur karena sekolahan ada UNAS.

Hari ini, ingin diisi dengan sesuatu yang ringan. Pertama ingin membuat organizer dari flanel, buat masukin HP kalau lagi di charge tuh. Plus wadah kabel-kabelnya. Lalu lanjut bikin bros aja ah. Oke deh, cabut dulu. Mumpung sepi, anak-anak masih pada main bola di luar sama temannya. Dan mumpung hawa masih bersih di ruang tamu. Nggak kemasukan asap mobil tetangga yang sedang dipanasin. Libur manasin ya pak hari ini, plis :)

Selamat berngapain saja my bloggerfriends. Kita lanjut nanti dengan pamer karya. heheh

4 Mei 2012

Nulis,Bisnis atau Craft; milih mana mbak ? -__-

0 comments
Hmmm....
judul itu adalah satu kalimat dari teman jarak jauhku. Ya teman baru yang sangat kuanggap seperti kakak sendiri. Bisa diajak diskusi dengan cara berpikir beliau yang juauuuhhh lebih matang dariku.

Judul itu juga, malah, aduh maaaf, bisa mematahkan sebuah judul yang membuat beliau tertarik padaku. Yaitu sebuah tulisan di blog ini yang berjudul, "Kupilih Bisnis dan Craft". Yang akhirnya membuatku diajak untuk join sharing cerita dalam blog yang dikelolanya.

sebelumnya, aduh mbakku, ojo gelo ya,
ah pasti tidak, karena kami sudah sangat intens bertukar pikiran sebelumnya.

Judul itu juga, walaupun pertanyaan pilihan, semacam tipe ujian sekolahan kita, pun masih tidak bisa kujawab dengan mudah.

Tempo hari, aku mantab menutup buku, meletakkan pensil lalu membuka majalah fashion, buku craft, tabloid bisnis dan sebagainya. Lalu mantap mengatakan , aku memilih bisnis dan craft. Dan sepertinya itu benar jalanku. Aku tidak akan menulis apapun lagi, kecuali penting. Semacam info diskon, begitu :)

Akibatnya, hobi menulis Note, mengisi Blog jadi berhenti. lama lama terasa ada kerinduan yang lain itu. akan rasa hening, hanyut. Rasa yang kualami ketika hanya berdua dengan buku yang kubaca. atau sesuatu yang kutulis.

Rindu itu sangat mengganggu. sampai harus bertarung dengan keinginanku untuk memegang kawat, tang, manik-manik ataupun kalkulator.

Pertarungan itu sangat melelahkan, sampai akhirnya aku memilih berhenti bertarung. melepaskan atribut perangku. lalu terbang ke angkasa.

Di atas sana kupandangi, diriku sendiri yang carut marut stress bingung mau mengerjakan apa dan menuruti kata hati yang mana.

Dan ketika aku menyerah saja. Tersenyum pada satu demi satu desakan hati untuk berbuat. lalu menurutinya menyesuaikan dengan tugas rumahku, maka, sekali lagi, lepaslah bebanku.

Aku menutup mata sejenak, lalu membayangkan kalau diriku adalah superwoman yang pakai daster. Bisa melakukan banyak hal, tapi tidak bisa melonjak-lonjak kegirangan untuk merayakannya - malu kan, pakai daster gitu loh, nanti kelihatan :P

Aku melaju dengan diam-diam.
Dan jika sekarang aku membagi ceritanya, itu karena aku ingin berbagi cerita, bahwa kadang kita tidak perlu memaksakan diri untuk memilih. Lakukan saja, apa yang bisa dilakukan. Selanjutnya, kita evaluasi lagi. Easy ya kedengarannya?

Saya masih terus berbenah untuk menjadi semakin biasa seperti daster itu tadi , hehe.

Berdiri Sendiri

0 comments
Anakku masih suka berteriak "mama makaaannnn!!!"
atau, "aku nggak punya temaaaannn !!!!"

Padahal kalau dipikir, tidak ada alasan yang jelas untuk meneriakkan hal itu. Dia hanya ingin diperhatikan, itu saja.

Sama seperti semua orang sepertinya. Butuh diperhatikan. Butuh atensi, aktualisasi diri atau apalah istilah kerennya. Yang pasti, tidak semua orang suka jika dirinya dianggap tidak ada atau tidak penting.

Aku pernah mengalami masa begitu butuh dengan Perhatian seperti ini.
Amat sangat butuh. Sampai-sampai aku gundah betul, jika perhatian yang kuharapkan itu tidak muncul. Padahal aku sudah berkorban banyak, agar dianggap benar - penting - baik -berhasil.

Hasilnya, lebih banyak kecewa daripada senangnya. Karena jarang sekali sesama manusia yang rela mengakui keberhasilan orang lain. Atau tetap lembut mendampingi ketika kita sedang jatuh.

Alhasil, karena berulang kali kecewa tidak diperhatikan manusia, aku pun memilih berhenti mengharapkannya.
Aku akan maju saja, melakukan apa yang bisa, tak peduli mau dianggap seperti apa, dimata manusia.
Aku hanya melatih keyakinan hati, bahwa biar manusia pura-pura tak peduli atau lebih hobi meremehkan kita, toh, ALLOH SWT yang lebih kuasa, pasti SETIA mengawasi, menemani dan membimbing kita dengan kasih sayang-Nya Yang Maha Luas.

bagaimana kemudian hasilnya?
Fantastis. Karena tidak mengharapkan orang lain, hati saya lapang. PIkiran tenang. Lebih produktif. Dan tanpa disangka, pujian itu malah datang. Saya berhasil mencuri perhatian. Saya berhasil dianggap sukses. Saya sudah tidak dianggap gagal. Tapi yang lebih menyenangkan, hal itu sudah tidak penting lagi bagiku. Tidak begitu penting. Ini melegakan.


2 Mei 2012

[jangan] Katakan Rencanamu Pada Orang Lain

3 comments
Kemarin saya membuka twitternya Bob Sadino. Menelusuri timelinenya, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Salah satunya yang saya retweet adalah "Buatlah rencana yang bagus. Jangan merusaknya dengan mengatakannya kepada orang lain."

Ini menarik. Karena sebelumnya, saya membaca sebuah anjuran, agar Semesta bisa Mendukung. Maka kita dianjurkan untuk mengatakan rencana kita kepada siapa saja. Kepada teman dekat, suami, saudara, dan semua yang bisa kita percaya. Maka rencana kita akan pasti berhasil karena mereka yang terdekat itu pasti mendukung.

Lalu, saya mempraktekkannya. Hampir setahun lebih, yang lalu, saya menulis ke teman sekamar saya waktu masih sekolah dulu, bahwa, saya sedang menulis buku How to Raising muslim boys.

teman saya itu tertawa dan menyindir dalam chatingannya, "gampang raising boys mah. Ikat di tiang bendera lalu ditarik. Raising deh."

saya nyengir juga sih. tapi tulisan saya itu berhenti. karena saya malu. nggak pantes deh kayaknya nulis buku berat seperti itu. malu. karena pasti belum bisa praktek sehebat yang tertulis di buku, dibandingkan dengan cara saya sendiri mengasuh dua anak lelaki saya di rumah. buku itu pun mandeg.

selanjutnya, saya mengatakan pada seorang teman baru, saya mau menulis memoar tentang ibu. dan benar, draft buku ini selesai. tapi untuk mengedit dengan baik saya dilanda kebosanan sekaligus kesulitan. karena memikirkan bagaimana reaksi orang ya, suka apa tidak. nanti tulisan ini bagus apa tidak. kalau belum jadi juga, ah malu banget, udah kadung koar koar kesana kemari. mau nerusin, kok macet nih isi kepala?

tidak hanya satu hal yang kuutarakan dengan entengnya pada saat itu kepada teman. rencana bisnis, pengen kursus melukis, ingin produksi ini itu, rencana ini itu. semua kukatakan. dengan harapan, akan mendapatkan suntikan semangat dari mereka. tetapi rupanya ini tidak berhasil [terutama bagi saya pribadi]. karena beban di hati makin berat, karena banyak yang terlanjur tahu. dan pasti mereka menganggap saya gagal dan gemar sesumbar omong kosong padahal tidak ada [belum ada] pencapaian yang nyata.

sampai pada akhirnya, saya membaca tweet dari pak Bob nyentrik itu. ya, inilah yang tepat. dan sesuai tipeku. lebih banyak diam, lebih hening, lebih baik.

entah dengan kawan lainnya, mungkin berbeda :)